Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo melaksanakan Pelatihan Penerjemahan Cerita Anak

Gorontalo, 24 Juni 2022,­– Dengan mengusung tema “Pelatihan Penerjemahan Cerita Anak Tahun 2022”, Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk menyelenggarakan kegiatan yang mampu mendorong penulis-penulis berbakat Gorontalo dalam menghasilkan cerita anak dwibahasa. Harapannya, kegiatan ini akan mampu meningkatkan minat dan semangat kaum muda untuk mempelajari bahasa daerah melalui media cerita anak.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Aston tersebut merupakan kelanjutan dari Pelatihan Penulisan Cerita Anak yang telah dilaksanakan di awal bulan Juni 2022. Dua puluh orang penulis Gorontalo hadir secara luring dan 5 orang hadir secara daring. Para penulis tersebut dipersiapkan untuk mampu menyusun cerita anak yang kaya dengan kearifan lokal dan mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa daerah, serta mampu membuat ilustrasi yang menarik pada cerita yang telah dibangun. Adapun sasaran pembaca cerita anak ini berada pada jenjang C, anak yang berusia 4—5 tahun. Mekanisme pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan cara menerjemahkan naskah cerita anak berbahasa Indonesia –yang telah dihasilkan pada kegiatan sebelumnya—ke dalam bahasa Gorontalo.

Armiati Rasyid, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, pada saat pembukaan kegiatan secara resmi,  menyampaikan bahwa kegiatan Pelatihan Penerjemahan Cerita Anak ini merupakan salah satu kegiatan pendukung program Literasi dan Internasionalisasi Bahasa Indonesia, Program Prioritas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek. Dengan melalui penulisan dan penerjemahan cerita anak dwibahasa ini, diharapkan tercipta cerita-cerita anak yang dapat memotivasi generasi muda Indonesia, sejak dini, semakin mengenal dan mencintai bahasa daerah, khususnya bahasa Gorontalo. Di sisi lain, cerita anak berbahasa Gorontalo tersebut dengan sendirinya ikut serta melestarikan bahasa Gorontalo. Ia juga menyatakan dukungannya untuk menjaga kelestarian bahasa dan sastra daerah agar bahasa Gorontalo ini dapat diwariskan kepada anak dan cucu, dan tidak punah seiring berjalannya waktu. Di akhir sambutannya, beliau juga memantik semangat para peserta pelatihan dengan trigatra bangun bahasa, “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing”.

Senada dengan isi sambutan Armiati Rasyid, pada hari pertama kegiatan, Prof. Dr. Moh. Karmin Baruadi, M.Hum., narasumber kegiatam penerjemahan, menyatakan bahwa “Kepunahan bahasa terjadi terutama karena para penuturnya tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa tersebut kepada generasi berikutnya,”. Menurutnya, bahasa Gorontalo adalah bahasa yang vokalis, mempunyai ciri khas morfem penunjuk arah, istilah kekerabatannya melekat pada serapan yang khas, serta memiliki keterkaitan dengan budaya. “Sama halnya dengan bahasa Indonesia, bahasa Gorontalo juga memiliki susunan kalimat yang berurutan, mana yang dipentingkan selalu ditempatkan pada awal kalimat,” tambahnya. Namun, sangat disayangkan karena di Gorontalo masih sangat sedikit buku berbahasa daerah yang dapat menunjang pengetahuan anak.

Pada hari kedua pelatihan, Prof Karmin membimbing satu per satu peserta untuk menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa Gorontalo. Ia merasa senang melihat antusias para peserta untuk menampilkan cerita anak yang dikemas dalam bahasa Gorontalo. “Kecintaan terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan dan dibiasakan sejak usia dini. Jika melihat kondisi sekarang ini, tidak menutup kemungkinan bahasa daerah akan punah tergerus zaman. Oleh karena itu, penulisan cerita anak dalam bahasa Gorontalo ini akan memberi warna baru untuk anak-anak daerah yang haus akan bacaan berbahasa Gorontalo,” pungkasnya, (23/6). Lebih dari itu, Prof Karmin mendukung Pemerintah Provinsi Gorontalo agar menjadikan Bahasa Gorontalo sebagai mulok wajib di sekolah anak-anak.

Dihari ketiga, peserta mendapatkan materi ilustrasi dari narasumber Evi Shelvia, illustrator buku cerita anak. Meskipun Ibu Evi tidak hadir secara bersemuka pada kegiatan tersebut, peserta dapat memahami semua penjelasan Ibu Evi dengan baik. “Ilustrasi yang baik akan membantu pembaca memahami isi cerita, sekaligus membuat cerita menjadi lebih menarik.”, tegasnya. Tak lupa ia juga menunjukkan beberapa contoh karya ilustrasinya yang sudah terkenal di Indonesia.

Peserta dari Universitas NU Gorontalo, Ryan menyebutkan bahwa pihaknya merasa bangga bisa mengikuti rangkaian pelatihan penulisan hingga penerjemahan cerita anak 2022. Tak lupa ia ucapkan terima kasih atas ilmu yang telah dibagikan oleh narasumber. Disusul dengan Ibu Rudce dari SMA 2 Paguyaman, ia menegaskan bahwa kegiatan Pelatihan Penerjemahan Cerita Anak ini menjadi trigger bagi para penulis untuk menulis cerita anak berbahasa daerah. “Semoga setelah kegiatan ini akan ada kelanjutan yang mewadahi para penulis untuk tetap berkarya.”, pungkasnya.

Pada penutupan acara, Pimpinan Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo menyampaiakan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Penerjemahan Cerita Anak. “Kantor Bahasa bangga bisa melayani masyarakat dan siap menjadi garda terdepan dalam pelestarian Bahasa daerah.”, tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.