Komigo untuk Masa Depan Bahasa Gorontalo

 

Provinsi Gorontalo memiliki empat bahasa daerah yang tersebar di wilayah penuturnya, antara lain bahasa Gorontalo, bahasa Suwawa, bahasa Minahasa dialek Jawa Tondano, dan bahasa Bajou. Namun, apa yang akan terjadi apabila keempat bahasa daerah ini hilang? UNESCO mengingatkan bahwa ketika suatu bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga—sejumlah besar legenda, puisi, dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah. Sebagai negara yang multibahasa dan multietnik, Indonesia tak luput dari fenomena kepunahan bahasa. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah melakukan kajian terkait vitalitas bahasa. Melalui kajian statistik kebahasaan dan kesastraan 2021, Badan Bahasa mendeteksi terdapat 25 bahasa berstatus aman, 19 bahasa stabil, tetapi terancam punah, 3 bahasa yang mengalami kemunduran, 25 bahasa terancam punah, 6 bahasa dalam keadaan kritis, serta 11 bahasa telah dinyatakan punah.

Perlahan tetapi pasti, masalah kepunahan bahasa ini turut menggerogoti daerah dengan julukan Serambi Madinah yang berada di wilayah utara Pulau Sulawesi. Penelitian vitalitas bahasa Suwawa pada tahun 2019  oleh Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo di tiga desa yaitu, Desa Bondara, Desa Bondawuna, dan Desa Bonedaa di Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalomenjadi gambaran daya hidup bahasa Gorontalo dewasa ini. Apabila kita menilik kriteria vitalitas bahasa berdasarkan bahasa yang dikuasai, terungkap bahwa penutur yang menguasai bahasa Suwawa dan bahasa Gorontalo masuk dalam kategori 4, yaitu mengalami kemunduran. Sementara itu, pada tahun 2010, SIL melalui situs ethnologue.com melaporkan bahwa jumlah penutur bahasa Gorontalo hanya 505.000 orang dengan keterangan menurun (Ethnologue, n.d.). Ethnologue juga memeringkat posisi keterancaman bahasa Gorontalo berada pada posisi nomor 6b (threatened). Darmawati (2019) mengungkapkan salah satu faktor ancaman kepunahan bahasa Gorontalo disebabkan oleh penutur muda yang tidak lagi menggunakannya dalam komunitas tutur bahasa karena tekanan ekonomi dan sosial, sehingga para anak muda berhenti menggunakan bahasa Ibu mereka dan beralih pada bahasa yang dominan.

Untuk merespons kondisi tersebut, Duta Bahasa Provinsi Gorontalo Tahun 2022 melakukan upaya strategis untuk mencegah proses kepunahan bahasa Gorontalo melalui Krida Bahasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), krida merupakan kata benda yang berarti olah, perbuatan atau tindakan. Krida Duta Bahasa adalah olah, tindakan, perbuatan yang berhubungan dengan kegiatan kebahasaan dan kesastraan yang digagas dan dilaksanakan oleh Reksa Bahasa bersama Duta Bahasa dengan koordinasi/fasilitasi dari balai/kantor bahasa dan pusat-pusat di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kriteria krida yang baik tidak selamanya menggunakan teknologi namun krida yang tepat guna dan bermanfaat untuk semua orang adalah krida yang baik. Oleh karena itu, kami merancang sebuah metode yang menyenangkan untuk mempelajari bahasa, budaya dan sastra daerah Provinsi Gorontalo, yang kami beri tajuk Te Koro dan Ti Mimi dari Gorontalo yang berakronim “Komigo” sebagai maskot yang merepresentasikan karakter khas anak-anak Gorontalo.

Tiga produk utama dari Komigo, yaitu komik, lagu, dan boneka. Lanti (2017) menuturkan kelebihan komik dalam kegiatan pembelajaran terletak pada: (1) sifat penyajiannya yang sederhana, (2) urutan cerita yang memuat informasi atau pesan yang besar, tetapi disajikan secara ringkas, serta mudah dipahami, dan (3) dilengkapi dengan bahasa verbal yang dialogis. Sementara itu, dalam proses belajar bahasa, lagu dapat menjadi alternatif yang cukup efektif. Komigo dirancang untuk anak kelas 4 sampai dengan 6 sekolah dasar (SD), berdasarkan teori dari Lenneberg (1967 : 116) melalui tulisan Eryani (2014) dalam Aquilia Prily Janet (Aquilina Prily Janet, Fadillah, 2013) yang mengatakan “There was a neurologically based „critical periods‟, which complete mastery of languange, but it is no longer possible, because it will end around the onset of puberty. That is why learning English as the second languange must be started early.” Setiap individu memiliki masa penting untuk dapat dengan mudah menguasai bahasa, yakni pada saat individu belum memasuki masa pubertas. Kemudian, Lily Chen-Hafteck dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa “Music and language are the two ways that humans communicate and epress themselves through sound. Since birth, babies start to listen and produce sound without distinguishing between music and language, singing and speech. Thus, the close relationship between music and language development is evident.” (Chen-Hafteck, 1997). Dapat disimpulkan bahwa musik merupakan cara yang paling mudah dan menyenangkan untuk mempelajari bahasa pada usia dini. sejak lahir, manusia mulai mendengarkan dan menghasilkan suara tanpa membedakan antara musik dan bahasa, serta nyanyian dan ucapan. Oleh karena itu, alunan musik dan perkembangan kognitif manusia dengan bahasa memiliki korelasi yang sangat erat, sehingga dapat dimaknai bahwa musik merupakan cara yang cukup mudah untuk belajar bahasa (Kustandi, et.al. 2011). Demikian juga boneka sebagai lambang visual memiliki magnet untuk menggugah emosi dan sikap siswa, membantu pencapaian tujuan dalam memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam istrumen visual tersebut, serta membantu untuk mengorganisasikan dan mengingat informasi (Levie et.al. 1982). Teori-teori tersebut membuktikan efektivitas potensi Komigo dalam menstimulasi anak-anak yang merupakan generasi penerus sebagai sasaran utama pelestarian bahasa Gorontalo.

Komigo sebagai maskot yang menggambarkan karakter khas anak-anak Gorontalo secara umum. Konsep belajar bahasa Gorontalo pada Komigo difokuskan melalui komik, lagu anak-anak yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Gorontalo, serta tokoh boneka Koro dan Mimi. Komik Komigo seri 1 berjudul Tuwoto U’alo Lo Hulontalo atau Makanan Khas Gorontalo yang berfungsi untuk mengajak anak-anak  bangga berbahasa Gorontalo dalam keseharian mereka. Anak-anak dituntun untuk menyelami keseruan tokoh Koro dan Mimi bersama teman-teman mereka dalam mempelajari berbagai jenis makanan khas Gorontalo. Di samping itu, anak-anak dapat mewarnai komik Komigo sesuai dengan kreativitas dan daya imajinasi mereka.

Selain menyuguhkan keseruan cerita Koro dan Mimi, komik Komigo juga membekali anak-anak dengan kuis teka-teki silang atau ”Hepotapula Tatalibe” sebanyak 8 soal, serta menguji ingatan mereka terkait berbagai jenis makanan khas Gorontalo pada kuis Tuwoto U’alo Lo Hulontalo sebanyak 10 soal. Di samping itu, pada bagian akhir komik, kami menyajikan lagu anak-anak yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Gorontalo dengan dilengkapi lirik, terjemahan bahasa Indonesia, serta akses mendengarkan lagu tersebut melalui kode respon cepat yang terletak di ujung kanan halaman tersebut. Lagu-lagu yang telah dialihbahasakan tersebut di antaranya, Anak Kambing Saya atau Walao Batadeu ciptaan Ibu Sud, dan Layang-layang atau Alanggaya ciptaan A.T. Mahmud. Sementara itu, boneka Koro dan Mimi dirancang dalam bentuk boneka tangan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan alat peraga. Boneka Koro dan Mimidikhususkan untuk menyampaikan materi dalam bentuk dongeng berdialek dan berbahasa Gorontalo yang memuat materi ajar tentang muatan lokal berupa bahasa dan budaya.

Untuk menyempurnakan Komigo, Duta Bahasa Provinsi Gorontalo telah melaksanakan kolaborasi dalam memperbaiki karakter bersama drg. Gamaria Purnawati Monoarfa, Sp.KGA. selaku Bunda Literasi dan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Gorontalo.  Komik Komigo juga telah melalui uji keterbacaan sebanyak 3 kali yaitu pada 2 Sekolah Dasar (SD) di Provinsi Gorontalo yaitu SDN 02 Kota Barat, SDN 05 Popayato dan SD Laboratorium Universitas Negeri Gorontalo. Terindikasi kekuatan dan keunggulan Komigo sebagai media pembelajaran dan pelestarian bahasa Gorontalo, salah satunya sebagai representasi tokoh anak-anak di Gorontalo—Te Koro dan Ti Mimi berpotensi lebih untuk terterima di kalangan anak-anak Provinsi Gorontalo karena dianggap familiar dengan jati diri mereka sehingga penerimaan bahasa Gorontalo oleh anak-anak dapat lebih mudah tercapai. Selain itu, informasi bahasa dan budaya Gorontalo yang dikemas dalam komik, lagu anak-anak, dan boneka diramu dengan mudah dan telah disesuaikan dengan kemampuan kognitif rata-rata anak-anak sekolah dasar kelas 4 sampai dengan kelas 6 di Provinsi Gorontalo. Komigo, sebuah terobosan dari Duta Bahasa Provinsi Gorontalo untuk masa depan bahasa Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.